Sulap Terminal Angkot Jadi Tempat Nongkrong Favorit
Habibah Anisa M.• Senin, 20 Oktober 2025 | 17:09 WIB
SPOT NONGKRONG FAVORIT: Terminal mobil penumpang umum (MPU) atau angkot disulap jadi tempat ngopi kekinian.
Menikmati Ngopi Kekinian di Kota Angin
Terminal mobil penumpang umum (MPU) atau angkot di Kabupaten Nganjuk kini mulaihidup kembali. Namun bukan penumpang angkot yang ramai. Namun, anak muda Kota Angin di terminal angkot untuk menikmati kopi di bawah pohon rindang.
Ngopi menjadi gaya hidup bagi masyarakat di Kabupaten Nganjuk. Mulai dari anak muda hingga orang dewasa. Tidak heran jika banyak muncul tempat kopi kekinian. Salah satu lokasinya berada terminal angkot.
Tempat ngopi satu ini berbeda dengan tempat ngopi pada umumnya. Sebab tempat kopi satu ini tidak berada di bangunan permanen, namun melainkan di tempat yang terbuka. Hanya beratap pohon rindang yang ditanam di area terminal. “Usaha ini sudah berjalan hampir tiga tahun,” terang Aldaranu Biaggi Novianto, owner Kopi Macan Kerah.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, laki-laki yang kerap disapa Alda ini menjelaskan, ide membuka tempat minum kopi ini terinspirasi dari tempat ngopi yang berada di Malang. “Waktu kuliah di Malang ini ramai tempat street coffee,” kenang Alda.
Penumpang bus bisa menikmati kopi kekinian di lantai dua Terminal Anjuk Ladang.
Alda bercerita pada saat itu street coffee ini menjamur di Malang mulai tahun 2017. Karena saking menjamurnya, street coffee disana hampir ada di setiap tempat. Meski menjamur di Malang, namun di Kota Angin masih belum ada tempat ngopi seperti itu. “Bahkan pada tahun 2020 street coffee di Malang ini makin ramai, tapi di Nganjuk masih belum ada,” imbuhnya.
Setelah lulus pada tahun 2021, laki-laki yang kini berusia 27 tahun ini memiliki ide untuk membuka street coffee di tempat asalnya. Yaitu Nganjuk. Ide usaha tersebut baru terealisasi pada tahun 2023.
Dari semua lokasi yang berada di Kabupaten Nganjuk. Anak pertama dari tiga bersaudara ini memilih Terminal Angkot Nganjuk. Salah satu alasan kenapa memilih terminal tersebut, karena di sana orang tuanya memiliki ruko yang membuka agen tiket. “Karena di Malang ramai tak coba bawa ke sini dan Alhamdulillah berhasil,” ujar Alda.
Karena sejak kecil sudah sering bermain di Terminal Angkot. Alda kemudian kepikiran untuk membuka usaha di sana. Untuk dapat membuka usaha, dia terlebih dahuluizin ke kepala terminal.
Ketika meminta izin untuk membuka usaha di terminal, laki-laki kelahiran tahun 1998 ini disambut hangat. Bahkan dengan adanya usaha kopi miliknya ini bisa menghidupkan terminal agar tidak sepi. Untuk dapat membuka usaha di sana. Ia hanya perlu membayar uang kebersihan saja. “Sebenarnya konsepnya ini coffee street biasa, namun yang melabeli coffee culture ini pengunjung,” ungkap suami dari Anggita Putri Anggraeni.
Ketika awal membuka usaha, bapak satu anak ini mengurus usahanya sendiri bersama sang istri. Awal buka masih belum seramai saat ini. Dalam satu hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB pernah laku hanya satu cangkir kopi hitam saja.
Setelah buka berapa bulan dan mempromosikan di media sosial, tempat ngopi miliknya ini mulai dikenal. Bahkan, dalam satu hari kini bisa menjual hingga ratusan gelas. Setelah buka mulai pukul 07.00 WIB hingga 00.00 WIB, dalam satu hari bisa menjual ratusan kopi. Jika hari biasa dalam satu hari bisa membuat 200 hingga 300 gelas, namun saat hari libur panjang atau akhir pekan biasa 400 gelas.
Keunikan dari tempat ngopi ini,pengunjung dapat duduk dimana saja. Dingklik terbuat dari plastik ini bisa digunakan di bawah pohon, atau di halte terminal. “Pengunjung bebas mengambil spot duduk,” kata Alda.
Tidak hanya tempatnya yang nyaman. Di coffee street milik laki-laki asal Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk ini mendatangkan kopi dari Malang. Tepatnya berasal dari Tirtoyudo dan Dampit. Kopi tersebut diseduh dengan menggunakan alat bernama moka pot.
Kopi disini ada dua jenis, kopi robusta dan arabica. Kopi yang diambil dari wilayah Malang adalah jenis robusta. Alasan kenapa memilih mengambil dari Malang, karena ia pernah langsung mencoba ke lokasi tempat biji kopi berasal. (ara/tyo)