NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Fosil stegodon yang ditemukan di Desa Tritik, Kecamatan Rejoso dibawa ke Museum Geologi Bandung untuk menjalani proses konservasi.
Pengiriman dilakukan setelah rangkaian ekskavasi dan penelitian lapangan rampung dilakukan oleh tim ahli dari Kementerian ESDM.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disbudparpora) Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo mengatakan, proses ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Nganjuk dan Museum Geologi. “Kami berkirim surat ke ESDM Museum Geologi karena mereka yang memiliki ahli-ahli ekskavasi,” ujarnya.
Menurut Gunawan, dukungan dari Pemkab Nganjuk sangat total. Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro dan jajaran terkait turun langsung meninjau proses lapangan. “Bahkan sudah kami laporkan ke Kementerian Kebudayaan. Fosilnya sudah diangkat dan kami kirim ke Museum Geologi Bandung untuk dilaksanakan konservasi,” ungkapnya.
Saat ini, seluruh fosil stegodon sudah berada di Bandung. Disporabudpar Nganjuk bahkan mengajak sekitar 17 warga Tritik, termasuk relawan dan tokoh masyarakat yang berpartisipasi dalam penemuan tersebut. “Itu bentuk reward atas prakarsa dan partisipasi mereka. Mereka kami ajak ke Museum Geologi Nasional agar melihat langsung,” ujarnya.
Gunawan mengatakan, fosil stegodon tersebut kini berstatus aset nasional. Meski saat ditemukan stegodon itu berada di Hutan Tritik wilayah Nganjuk, namun itu aset nasional. “Di Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dijelaskan bahwa kekayaan alam dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya.
Meski demikian, Nganjuk nantinya akan mendapatkan replika stegodon setelah proses konservasi selesai. “Kami sudah bersurat, nantinya kami diberikan replika. Replika ini yang akan dipasang kembali di Tritik,” ujar Gunawan.
Selain nilai ilmiah, keberadaan fosil stegodon ini diharapkan membuka cakrawala baru mengenai sejarah peradaban di kawasan Nganjuk. Selain itu, agar diketahui bahwa di Nganjuk ada peradaban sebelum sekarang. “Nyatanya ada hewan purba yang ditemukan di situ,” ujar mantan kepala dinas PUPR ini. (nov/tyo)
Editor : Karen Wibi