Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi memberi peringatan kepada kontraktor yang mengerjakan proyek milik pemerintah.
Bupati Marhaen Beri Warning Kontraktor Nakal
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi memberi peringatan kepada kontraktor yang mengerjakan proyek milik pemerintah. Dia mewanti-wanti kepada kontraktor agar tidak nakal. Karena Marhaen tidak ingin kejadian ambruknya Jembatan Kedungdowo kembali terulang.
Pesan itu disampaikan Marhaen ketika melakukan pengecekan ambruknya Jembatan Kedungdowo di Kecamatan Nganjuk. Dia mengatakan, setelah ditelusuri, kualitas Jembatan Kedungdowo, buruk. “Kontraktor yang melakukan pembangunan di Kabupaten Nganjuk harus memiliki komitmen,” ujarnya.
Seperti diketahui, Jembatan Kedungdowo dibangun sejak 2010 hingga molor ke 2011. Saat itu Pemkab Nganjuk menggelontorkan anggaran hingga Rp 1,5 miliar. Namun sayangnya jembatan tak mampu bertahan lama. Karena tiga tahun berselang, jembatan sudah rusak. Tiang penyangga di sisi selatan mengalami keretakan. Lalu pada 2015 jembatan tersebut sudah harus diperbaiki.
Sekitar 14 tahun kemudian, pada hari Minggu lalu (30/11), jembatan kembali rusak. Tidak tanggung-tanggung, jembatan tersebut putus. Penyebabnya adalah tiang penyangga di sisi utara yang hancur.
Menurut Marhaen, kejadian ambruknya Jembatan Kedungdowo tidak bisa ditolerir. Karena usia jembatan kurang dari 15 tahun masih terbilang muda. Seharusnya jembatan memiliki usia yang lebih panjang. Paling tidak yaitu 25 tahun. “Jembatan baru dibangun pada 2010 lalu. Sekarang sudah putus,” tambahnya.
Tak ingin terulang, Marhaen mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk akan lebih selektif dalam melakukan lelang proyek. Ditambah pemkab juga akan lebih ketat dalam melakukan pengawasan. Dengan targetnya agar tidak ada kejadian serupa di kemudian hari. “Tidak boleh ada jembatan ambruk karena kontraktor yang nakal. Akan kami awasi betul-betul,” tandasnya.
Sementara itu, hingga kemarin (3/12), Pemkab Nganjuk masih menimbang-nimbang tentang rencana perbaikan jembatan di tahun depan. Menurut Marhaen, jika jembatan harus dibangun ulang, maka perbaikan akan diajukan melalui bantuan pemerintah pusat. Namun jika jembatan dibangun sebagian, maka perbaikan akan dilakukan oleh pemerintah daerah. “Kami masih terus berdiskusi dengan ahli dari ITS untuk rencana perbaikan,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jembatan Kedungdowo putus pada Minggu sore (30/11) sekitar pukul 15.00 WIB. Penyebabnya adalah tiang penyangga jembatan di sisi utara yang ambruk. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
Padahal jembatan yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2010 itu usianya belum genap 15 tahun. Bahkan, sejak digunakan pada 2011 lalu, jembatan sudah mengalami kerusakan hingga dua kali. Pertama di tahun 2013 dan kedua di bulan ini. (wib/tyo)