NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pembangunan Museum/Rumah Singgah Pahlawan Nasional Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, tidak akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Nganjuk maupun Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Seluruh pembiayaan pembangunan museum tersebut berasal dari solidaritas dan gotong royong kaum buruh melalui Yayasan Pekerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menegaskan, pembangunan Museum Marsinah dilakukan secara mandiri tanpa membebani APBN maupun APBD.“Kami tegaskan pembangunan gedung museum ini tidak menggunakan APBN atau APBD. Ini murni dari Yayasan Pekerja SPSI, dari donasi pekerja buruh, iuran, dan beberapa donator,” tandasnya.
Andi menjelaskan, keputusan membangun museum dengan pendanaan mandiri merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur kaum buruh atas perjuangan Marsinah yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, Marsinah menjadi simbol keberanian dan perjuangan buruh dalam menuntut keadilan dan hak-hak pekerja. “Kami tidak ingin merepotkan pemerintah. Buruh sangat bersyukur memiliki pahlawan seperti Marsinah dan teman-teman buruh dengan sukarela bersedia melakukan iuran untuk pembangunan museum ini,” lanjutnya.
Andi menyebut, dana pembangunan museum dikumpulkan dari berbagai elemen buruh di seluruh Indonesia. Selain iuran anggota, pendanaan juga diperoleh dari donasi para pekerja serta sejumlah pihak yang memberikan dukungan terhadap pelestarian sejarah perjuangan buruh.
Pembangunan Museum/Rumah Singgah Ibu Marsinah diharapkan menjadi pusat dokumentasi sejarah perjuangan buruh Indonesia. Keberadaan museum ini juga diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menghargai jasa pahlawan nasional.
Selain sebagai ruang edukasi, museum tersebut dirancang menjadi rumah singgah bagi buruh yang berkunjung ke Nganjuk. Ke depan, Museum Marsinah juga diharapkan menjadi destinasi sejarah yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui kunjungan buruh dari berbagai daerah di Indonesia. “Sangat bersyukur akhirnya gedung marsinah akhirnya berdiri, permintaan dari keluarga marsini yang kami sampaikan ke kapolri dan akhirnya bisa diwujudkan,” ujarnya.
Andi menambahkan, pembangunan museum akan terus dikawal hingga selesai dan siap digunakan. Ia berharap, Museum Marsinah dapat menjadi simbol persatuan kaum buruh serta warisan sejarah yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. (nov/tyo)
Editor : Karen Wibi