NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani cabai rawit di Desa Jatigreges, Kecamatan Pace gigit jari. Mereka mengalami gagal panen di awal tahun ini. Penyebabnya tanaman cabai diserang oleh hama antraknosa atau yang sering disebut patek.
Dwinoto, salah satu petani cabai rawit mengatakan, sejak sebulan yang lalu, tanaman cabai di Desa Jatigreges mulai terserang hama patek. “Sebelumnya sehat-sehat saja. Tapi setelah mau dipanen, tanaman cabai langsung terserang hama,” ujar pria yang kini berusia 60 tahun itu.
Dwinoto menceritakan, sejak satu bulan lalu, cabai di Desa Jatigreges mulai terserang hama. Padahal, di waktu yang bersamaan, tanaman cabai miliknya seharusnya memasuki musim panen.
Tidak tanggung-tanggung, hama patek itu langsung menyerang bagian buah cabai. Ciri-cirinya adalah buah cabai yang membusuk jelang dipanen. Mulai dari berubah warna hingga menjadi layu. “Kalau sudah terserang tidak bisa diselamatkan. Tidak bisa dipanen,” tambahnya.
Hama tersebut tidak hanya menyerang lahan milik Dwinoto. Melainkan juga menyerang ratusan hektare sawah cabai di Desa Jatigreges. Hal itu yang membuat mayoritas petani gagal panen.
Gagal panen yang dimaksud adalah berkurangnya jumlah cabai yang bisa dipanen. Tidak tanggung-tanggung, pengurangan hasil panen akibat hama patek bisa mencapai 40 persen hingga 60 persen dari jumlah keseluruhan. “Bisa dipanen 50 persen saja hitungannya sudah bagus,” tandasnya.
Lalu apa penyebab hama patek tersebut? Menanggapi pertanyaan itu, Dwinoto mengatakan hama patek disebabkan curah hujan yang berlebih di malam hari. Kebetulan, sejak satu bulan terakhir, hujan terus-terusan mengguyur Desa Jatigreges.
Para petani juga sempat melakukan pengobatan pada tanaman cabai. Namun hasilnya nihil. Hama masih terus menyerang tanaman cabai. Akibatnya, para petani menghentikan proses penyemprotan obat. “Obat untuk mengatasi hama patek juga mahal. Jadi kami memilih untuk mengikhlaskan,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi