Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Pasutri Yang Meninggal di Wilangan: Jarang Curhat karena Terkenal Pendiam 

Novanda Nirwana • Senin, 19 Januari 2026 | 18:30 WIB

TINGGAL KENANGAN: Pasutri Agus dan Ririn meninggal terbakar di kamar rumahnya.
TINGGAL KENANGAN: Pasutri Agus dan Ririn meninggal terbakar di kamar rumahnya.

Pasangan Suami Istri (Pasutri) Agus Winariyanto dan Ririn Nur Faridah yang Meninggal Terbakar

Jumat sore (16/1) menjadi hal yang paling mengerikan bagi Lasto sekeluarga. Anak dan menantunya meninggal dunia di kamar karena terbakar. Kamar pasutri Agus Winariyanto dan Ririn Nur Faridah ludes dilalap si jago merah.

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Telepon di saku Lasto berdering pada Jumat sore (16/1).  Seketika, kabar dari tetangganya meruntuhkan dunia Lasto.

Anaknya yang bernama Ririn Nur Faridah, 39 dan Agus Winariyanto, 41, menantu dikabarkan meninggal dunia  Mereka ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumah yang hangus dilalap api. Sepasang suami istri itu tak sempat menyelamatkan diri. "Saya pas kerja itu ditelepon tetangga katanya rumah kebakaran," ujarnya. 

Dia pun tak mengetahui secara pasti apa penyebab kebakaran yang merenggut anak dan menantunya itu. Yang ia tahu, saat datang ke rumah, sudah ramai kerumunan warga. Kamar yang biasanya dihuni oleh Ririn dan Agus sudah hangus terbakar.  “Di rumah itu ada lima orang. Anak saya, menantu, dua cucu, dan saya,” ujar Lasto lirih.

Pagi sebelum kejadian, rumah itu masih seperti hari-hari lain. Lasto mengaku sempat bertemu dan berbincang singkat dengan putrinya. Tak ada pertanda duka. “Terakhir ketemu pagi. Ngobrol biasa,” katanya.

Ririn dikenal sebagai Ketua RT 5 RW 2 Dusun Manggarejo. Selain aktif di lingkungan, ia juga mengelola toko kelontong di rumahnya. Sementara Agus, suaminya, bekerja sebagai guru sekolah dasar di Sidoarjo. Di mata sang ayah, keduanya adalah pasangan yang pendiam. “Selama ini anak saya tertutup. Kalau ada apa-apa nggak pernah cerita. Suaminya juga sama,” ungkap Lasto.

Pagi itu pula, cucunya sempat berada di rumah. Rencananya ikut Lasto berangkat kerja. Namun karena Lasto berangkat terlalu pagi, sang cucu akhirnya pergi ke rumah neneknya yang berada di Ganungkidul, Kecamatan Nganjuk sendirian. "Rencananya cucu mau ikut saya sekalian, tapi saya berangkatnya kepagian," paparnya. 

Api disebut pertama kali muncul dari dalam rumah. Ledakan sempat terdengar sebelum kobaran membesar. Saat warga berhasil masuk, Ririn dan Agus sudah tergeletak di kamar. Keduanya meninggal berdampingan, di ruang yang sama.

Yang membuat duka Lasto kian perih, rencana sore hari itu sebenarnya masih menyimpan kehangatan keluarga. Ririn sudah menyiapkan masakan di dapur. “Saya pesan ke anak saya, nanti sore Rejeban bikin ambeng,” katanya.

Dari keterangan polisi yang melakukan olah TKP, Lasto menyebut polisi juga melihat adanya masakan ayam dan mie yang sudah disiapkan di dapur. Namun nasi ambeng itu tak pernah tersaji. Dapur yang semula penuh persiapan kini porak poranda.

Kini, Lasto hanya bisa menatap kamar yang menjadi saksi akhir kehidupan anak dan menantunya. Pintu itu tertutup rapat oleh duka. Tak ada lagi sapaan pagi. Tak ada lagi obrolan singkat sebelum bekerja. (tyo)

 

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #pasutri #kebakaran