Novanda Nirwana• Senin, 2 Februari 2026 | 11:41 WIB
SABAR: Agus Supriyanto menata parkir motor. Dia jadi PPPK paruh waktu setelah 20 tahun mengabdi.
Agus Supriyanto, Juru Parkir di Jalan Ahmad Yani Nganjuk
Seragam juru parkir itu sudah memudar warnanya. Namun, keteguhan Agus Suprianto tak ikut luntur dimakan waktu. Dua puluh tahun lebih, priaasal Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk, setia berdiri di tepi Jalan A Yani Nganjuk. Mengatur kendaraan parkir. Harapannya hanya satu menjadi aparatur sipil negara (ASN) sebelum pensiun.
NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Agus Supriyanto bukan nama baru di Jalan A. Yani Nganjuk. Sejak pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB, ia sudah bersiap di titik parkirnya, di jalan Ahmad Yani. Hingga pukul 14.00 WIB, dia berdiri, berjalan, dan sesekali berlari kecil menghindari kendaraan yang melaju tanpa aba-aba.“Hampir ditabrak itu ya makanan sehari-hari,” tawanya.
Selama dua dekade, Agus menyaksikan perubahan wajah perparkiran. Namun satu hal yang menurutnya tak banyak berubah adalah pandangan sebagian masyarakat terhadap pekerjaannya.“Karena sudah parkir berlangganan, tujuan kami cuma menata saja, nggak minta,” katanya.
Tapi tak jarang, ia tetap dituding meminta uang. “Banyak yang bilang kita minta. Padahal kalau dikasih ya nggak apa-apa, tapi nggak pernah maksa," ujarnya.
Kini statusnya sudah menjadi PPPK paruh waktu. Harapan yang diimpikan. Menjadi aparatur sipil negara (ASN). Status itu diharapkan meningkatkan kesejahteraannya. Karena parkir menjadi mata pencahariannya untuk hidup sehari-hari. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk menghidupi sang bapak. “Mengandalkan ini aja buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Tak ada pekerjaan sampingan. Tak ada sumber lain. Agus juga bercerita tentang minimnya tenaga parkir di lapangan. Menurutnya, beban kerja kerap tak sebanding dengan jumlah petugas. “Sebenarnya kurang tenaga, tapi nggak boleh diangkat lagi katanya,” ujarnya.
Akibatnya, petugas yang ada harus saling bergantian jadwal libur, menyesuaikan kondisi di lapangan.
Meski demikian, Agus tetap bertahan. Bukan tanpa lelah, tetapi karena tak banyak pilihan. 20 tahun berdiri di tepi jalan membuatnya terbiasa dengan klakson keras, pengendara yang sulit diarahkan, hingga panas dan hujan yang datang silih berganti.
Di balik baju parkir dan peluit sederhana, ada cerita tentang pengabdian. Bagi Agus, Jalan A Yani bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah hidupnya berjalan selama dua puluh tahun terakhir. (tyo)