RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM— Lonjakan kurs dolar AS yang kian melambung tinggi tengah menjadi sorotan tajam publik. Pada Minggu (17/5/2026), nilai tukar dolar Amerika Serikat dilaporkan telah menembus angka Rp 17.602.
Menanggapi fenomena ekonomi ini, Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan yang memicu perbincangan hangat saat melaunching Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk pada Sabtu (16/5/2026). Menurut Prabowo, masyarakat di pedesaan tidak perlu khawatir berlebih selama kebutuhan pokok di wilayah mereka masih aman.
Baca Juga: 1.061 Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi
"Mau dolar berapa ribu, kalian di desa-desa enggak pakai dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri," ujar Presiden Prabowo.
Dalam kelakarnya, Prabowo bahkan mencontohkan bahwa pihak yang seharusnya pusing adalah mereka yang gemar bepergian ke luar negeri, sembari berseloroh menyebut nama Titiek Soeharto.
Kritik Pengamat Ekonomi: Dampak Dolar Naik Tembus ke Desa
Pernyataan orang nomor satu di Indonesia tersebut langsung memantik respons dari pakar ekonomi. Melalui sebuah video singkat yang viral di media sosial, pengamat ekonomi Ferry Latuhihin memberikan pandangan kontras mengenai dampak sistemik dari melemahnya rupiah.
Ferry menegaskan bahwa efek domino dari kenaikan kurs dolar akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, bahkan hingga ke pedalaman.
Baca Juga: Menko Zulkifi Hasan Menghadiri Launching Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk
"Kalau dolar naik lama, semua orang kena. Jangankan warga desa, orang utan pun kena," ucap Ferry menyindir realitas dampak ekonomi makro.
Mengapa Warga Desa Tetap Terdampak Kenaikan Dolar?
Ferry Latuhihin membeberkan dua alasan utama mengapa argumen "warga desa tidak pakai dolar" kurang tepat dalam konteks ekonomi modern:
-
Ketergantungan Impor BBM: Indonesia saat ini masih melakukan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) menggunakan mata uang dolar AS. Jika dolar melonjak, harga BBM berpotensi besar ikut naik. Kenaikan BBM dipastikan memukul sektor transportasi dan distribusi barang ke desa-desa.
-
Lonjakan Harga Minyak Goreng (Migor): Ferry mencontohkan harga minyak goreng yang saat ini terpantau sudah melonjak hingga 20 persen. Karena komponen produksi atau bahan bakunya terkait dengan pasar global yang berbasis dolar, dampaknya langsung merembet ke dapur warga di pelosok. "Orang desa kalau masak ya pakai minyak goreng," cetus Ferry.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Ini Harapan Buruh dari Kediri
Hingga saat ini, perdebatan mengenai dampak riil kenaikan dolar terhadap daya beli masyarakat bawah terus menjadi ruang diskusi hangat di kalangan netizen dan pelaku ekonomi.