Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Penulis Berbakat Asal Nganjuk Diah Shanti Utaminingtiyas

Karen Wibi • Minggu, 25 Mei 2025 | 22:33 WIB
Diah Shanti Utaminingtiyas
Diah Shanti Utaminingtiyas

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kabupaten Nganjuk memiliki penulis buku dongeng yang andal. Dia adalah Diah Shanti Utaminingtiyas.

Karya perempuan asal Kecamatan Nganjuk itu sudah dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Namun ternyata, ada kisah sedih yang menjadi motivasi Diah menjadi seorang penulis. 

Pagi itu Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Nganjuk sedang ramai.

Di ruang baca, ada belasan pengunjung yang sedang asyik membaca. Mulai dari membaca buku pelajaran, novel, hingga koran.

 Namun dari belasan pengunjung itu, ada satu pengunjung yang tampak berbeda dari pengunjung lainnya.

Pengunjung perempuan itu membaca buku yang tidak diambil dari rak yang sudah disediakan. Melainkan buku yang dia bawa dari rumah.

Uniknya, buku itu bersampulkan foto seorang anak kecil. “Ini anak saya. Namanya Aghnia Farhana Assakhi,” ujar perempuan yang namanya adalah Diah Shanti Utaminingtiyas dengan lirih.

 Ternyata perempuan berhijab itu adalah seorang penulis. Lebih khususnya penulis buku dongeng. Sedangkan, buku yang dibacanya itu adalah buku karya pertamanya.

Buku itu diciptakan khusus untuk sang anak yang bernama Aghnia.

 Buku itu tidak memiliki banyak tulisan. Malahan, lebih banyak gambar di dalamnya. Karena memang, buku itu tidak untuk dibaca seperti buku dongeng pada umumnya.

Buku itu ditujukan kepada sang anak untuk belajar menghafal kata-kata.

 “Anak saya tuli. Beruntung di usia 1,5 tahun, anak saya bisa mendengar dengan alat bantu. Sejak saat itu saya harus mengajarkan kata-kata. Salah satu caranya dengan mengenalkan lewat visual,” ujar perempuan yang rumahnya di Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk itu.

 Buku itu ternyata menjadi pengantar Diah masuk ke dunia penulisan buku dongeng. Namun ternyata, awal mula yang dialami oleh Diah tidak berjalan dengan baik-baik saja.

Karena pada tahun 2022 lalu, Aghnia, sang buah hati meninggal dunia saat usia menginjak empat tahun. Penyebabnya karena penyakit demam berdarah (DB).

 Dunia perempuan yang kini berusia 35 tahun itu seakan-akan runtuh. Bahkan selama beberapa bulan, Diah mengaku seperti kehilangan arah.

Tak mau terus-terusan bersedih, Diah mencoba mencari cara agar bisa move on. Salah satunya yaitu dengan mengikuti komunitas menulis.

Bahkan Diah juga mendirikan dan menjadi ketua di Forum Lingkar Pena (FLP) Nganjuk.

 Singkat cerita, setelah ikut beberapa komunitas, Diah kian produktif dalam menulis buku. Namun dirinya ingin fokus dalam menulis buku dongeng.

Karena menurut Diah, buku dongeng itu selalu mengingatkannya kepada sang anak.

 Ternyata motivasinya itu membuahkan hasil. Banyak karya milik Diah yang dilirik oleh Balai Bahasa Jawa Timur dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. 

Bupati Marhaen Djumadi langsung memberikan apresiasi kepada Diah. “Ini adalah salah satu penulis andal yang dimiliki Kabupaten Nganjuk,” ujarnya sambil menunjuk Diah. 

Kang Marhaen berharap, Nganjuk akan memunculkan penulis-penulis andal. Sehingga, Nganjuk akan semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional. (wib/tyo)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#penulis #radar nganjuk berita hari ini #nganjuk #buku dongeng #Marhaen Djumadi #diah #karya #tuli