NGANJUK, JP Radar Nganjuk - DIAH Shanti Utaminingtiyas adalah perempuan, istri, dan ibu yang layak mendapat dua jempol.
Saat dia memiliki buah hati, dia mencurahkan sepenuhnya perhatian dan kasih sayangnya untuk anak dan keluarganya. Dia selalu mendampingi tumbuh kembang anak.
Meski nalurinya merasakan ada ketidakwajaran dari perkembangan Aghnia saat masih bayi, dia berusaha menolak. “Saat itu saya curiga anak saya tidak bisa mendengar,” ujarnya.
Meski demikian, dia akhirnya melakukan tes untuk memastikan kecurigaannya. Aghnia diberi handphone dan diputarkan video.
Kemudian, volume di handpone itu dimaksimalkan. Anehnya, Aghnia tidak meresponsnya. Kemudian, Aghnia yang berusia setahun juga belum bisa berbicara.
Seketika itu, Diah bersama suaminya membawa sang buah hati ke dokter. Hasilnya, Aghnia dinyatakan tuli.
Mengetahui hal itu, sang suami meminta Diah untuk resign dari profesinya sebagai dosen di perguruan tinggi swasta di Kota Kediri.
Diah pun tidak keberatan. Dia ingin lebih fokus merawat dan menyembuhkan Aghnia. Operasi pun dilakukan dengan biaya yang besar.
Hasilnya, Aghnia bisa mendengar dan mulai bisa berkomunikasi.
Sayang, takdir berkata lain. Aghnia meninggal dunia karena DB di usia empat tahun. Diah dan suaminya pun harus merelakan kepergian sang buah hati selama-lamanya.
Meski sempat mengalami kesedihan yang mendalam, Diah akhirnya bisa bangkit.
Dia ingin kepergian Aghnia dan perjuangannya sebagai seorang ibu menjadi semangat bagi ibu-ibu di dunia. Termasuk, mengharumkan Kabupaten Nganjuk lewat tulisan dongengnya.
Baca Juga: Mengenal Penulis Berbakat Asal Nganjuk Diah Shanti Utaminingtiyas
Karena itu, ada ciri khas di buku dongeng Diah. Salah satunya adalah memasukkan unsur Nganjuk di dalam ceritanya.
Setidaknya ada tiga buku dongeng yang sudah diterbitkan yang di dalamnya mengangung unsur Nganjuk. Ketiga buku dongeng itu berjudul “Brambang, Ngilangke Racun?”, “Jagad Legenda”, dan “Mung Dhe”.
“Saya juga ingin mengenalkan tanah kelahiran saya, Nganjuk, kepada para pembaca,” ujar Diah kepada wartawan koran ini.
Seperti di buku dongeng berjudul “Brambang, Ngilangke Racun”. Buku dongeng itu bercerita tentang seorang anak perempuan dari Kota Surabaya yang melancong ke Kabupaten Nganjuk untuk bertemu dengan sahabatnya.
Saat berada di Nganjuk, si tokoh utama diajak untuk berkeliling ke sawah bawang merah atau brambang.
Sayang, saat di sawah, anak perempuan itu mengalami gatal-gatal karena diserang ulat.
Nah, singkat cerita, teman dari tokoh utama itu mengenalkan cara jitu untuk menghilangkan gatal-gatal. Yaitu dengan menggunakan getah dari bawang merah atau brambang.
Sedangkan buku dongeng “Jagad Legenda” menceritakan cerita rakyat Roro Kuning. Lalu buku dongeng “Mung Dhe” diambil dari tarian khas asal Nganjuk yang bermula di Kecamatan Baron.
Kedua buku tersebut saat ini sedang dalam proses penerbitan.“Harapannya tentu agar Kabupaten Nganjuk dapat lebih dikenal di Indonesia,” tambahnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira