Mengenal Wahyu Purnamahadi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk, Keliling Warung Kopi setiap Malam Hari
Novanda Nirwana• Jumat, 13 Februari 2026 | 14:21 WIB
SUKA NGOPI: Kepala BPS Nganjuk Wahyu Purnamahadi. Dia suka ngopi saat malam hari.
Wahyu Purnamahadi adalah Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk sejak Agustus 2025. Selama enam bulan di Kota Angin, pria asal Bekasi, Jawa Barat ini memiliki kebiasaan unik. Setiap malam, dia keliling coffee shop dan warung kopi di Kabupaten Nganjuk.
NOVANDA NIRWANA-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Saya itu suka ngopi,” ujar Wahyu Purnamahadi saat ditemui wartawan koran ini kemarin. Setiap malam, dia mengajak istrinya mencicipi kopi. Mulai dari kopi di pinggir Jalan A. Yani Nganjuk atau warung kopi hingga kopi di coffee shop atau kafe. Berbagai macam kopi dicicipinya. Karena semuanya memiliki ciri khas masing-masing.
Bagi Wahyu, ngopi di Kota Angin sangat ramah di kantong. Dengan berbekal uang Rp 70 ribu, dia sudah bisa menikmati kopi sekaligus camilan. “Kalau di Bekasi sekali ngopi minimal bisa Rp 300 ribu,” katanya sambil tertawa.
Kehadiran istri menjadi alasan lain ia rajin berburu kuliner. Dulu, istrinya sempat memiliki usaha kuliner di Bekasi. Namun setelah pindah ke Nganjuk, Wahyu memilih agar sang istri tidak membuka usaha dulu. “Saya kasihan kalau istri hanya di rumah, pasti bosan. Jadi, kalau malam saya ajak kuliner atau sekadar ngopi,” tuturnya.
Soal makanan favorit, Wahyu u tak jauh dari selera masyarakat lokal. Nasi pecel tetap jadi pilihan, meski ia terang-terangan menyebut nasi uduk sebagai favorit utama bila tersedia. Ia juga menilai kuliner Nganjuk cukup lengkap, mulai makanan tradisional hingga western.“Memang western cuma satu dua, tapi cukup mengobati kangen,” ucap pria asal Bekasi itu.
Tak hanya dirinya, keluarga juga merasa betah. Anak-anaknya menikmati suasana Nganjuk yang dinilai lebih tenang. “Di sini itu slow living, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Kalau kota besar itu capek, interaksi cepat bikin stres. Di sini stresnya paling kalau anggota saya lagi ngambek,” candanya.
Meski begitu, adaptasi awal tak sepenuhnya mulus. Wahyu sempat mengeluhkan keterbatasan pembayaran non-tunai saat pertama datang. Kini kondisi itu sudah berubah.“Dulu sempat bingung karena belum banyak QRIS. Sekarang hampir semua sudah ada, jadi aman walau tidak bawa cash,” katanya.
Dari sisi bahasa pun ia tak menemui kendala besar, walau sesekali mengalami momen lucu. “Kalau saya pesan pakai Jawa biasa, kadang dijawab Jawa kromo. Nah saya langsung bingung, akhirnya balik pakai Bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Di balik sisi santainya, Wahyu tetap fokus pada tanggung jawab utama sebagai pimpinan BPS Nganjuk. Tantangan terbesar, menurut dia, adalah meningkatkan kesadaran para produsen data agar kualitas statistik daerah semakin baik.
Wahyu bersyukur mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Menurutnya, perhatian bupati dan wakil bupati terhadap data cukup besar. “Kalau ada kendala dengan dinas, kadang saya langsung komunikasi ke bupati,” ujarnya. (tyo)