Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Gara-Gara Donald Trump Harga iPhone bisa Naik Hingga Lebih Dari Rp 50 Juta, Kok Bisa?

Redaksi Radar Nganjuk • Jumat, 11 April 2025 | 21:39 WIB
Gara-Gara Donald Trump Harga iPhone bisa Naik Hingga Lebih Dari Rp 50 Juta, Kok Bisa?
Gara-Gara Donald Trump Harga iPhone bisa Naik Hingga Lebih Dari Rp 50 Juta, Kok Bisa?

JP Radar Nganjuk- Harga iPhone diperkirakan bisa melonjak drastis hingga mencapai lebih dari Rp50 juta per unit apabila seluruh proses produksinya dipindahkan ke Amerika Serikat.

Saat ini, harga perangkat tersebut masih berada di kisaran Rp16 juta, bergantung pada model dan kapasitas penyimpanan.

Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh tingginya biaya produksi di AS, termasuk pembangunan fasilitas manufaktur berteknologi tinggi, pemberian upah tenaga kerja yang lebih besar, serta perlunya penyesuaian rantai pasok global yang selama ini terpusat di kawasan Asia.

Selama ini, proses produksi iPhone mengandalkan sistem rantai pasok yang tersebar di berbagai negara Asia.

Komponen penting seperti chipset diproduksi di Taiwan, layar berasal dari Korea Selatan, sementara kamera dan sensor lainnya dibuat di Jepang dan Tiongkok.

Proses perakitan akhir dilakukan di pabrik yang berlokasi di Tiongkok.

Struktur tersebut memungkinkan efisiensi biaya produksi dan mempertahankan margin keuntungan perusahaan.

Namun, apabila sebagian proses produksi dipindahkan ke Amerika Serikat, diperlukan investasi besar—diperkirakan mencapai US$30 miliar—serta waktu lebih dari tiga tahun hanya untuk memindahkan sekitar 10 persen dari total kapasitas produksi.

Kendati produksi tidak sepenuhnya dipindahkan ke AS, penerapan tarif impor yang lebih tinggi terhadap komponen dari luar negeri tetap akan berpengaruh pada struktur biaya keseluruhan.

Biaya tambahan ini kemungkinan besar akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual.

Dalam skenario tersebut, harga iPhone terbaru dapat naik hingga 43 persen, menjadikannya produk yang semakin tidak terjangkau bagi sebagian besar konsumen.

Situasi ini turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, yang tercermin dari penurunan nilai saham perusahaan hingga sekitar 25 persen dalam beberapa waktu terakhir.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, perusahaan telah mulai mengalihkan sebagian lini produksinya ke negara-negara seperti India dan Brasil.

Kedua negara tersebut menawarkan tarif impor yang lebih rendah dan dukungan pemerintah terhadap investasi asing, menjadikannya lokasi strategis untuk pengembangan manufaktur.

Langkah diversifikasi ini sejalan dengan tren global yang mendorong distribusi produksi ke berbagai wilayah guna mengurangi risiko geopolitik dan meningkatkan ketahanan rantai pasok.

Penulis: Effa Desiana Hidayah

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#amerika #tarif dagang as #iphone