Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mapan Bukan Jaminan, Berikut 5 Perusahaan Besar Yang Terpaksa Gulung Tikar. No. 3 Kebanggaan Emak-emak!

Elna Malika • Minggu, 13 April 2025 | 21:43 WIB
Tupperware
Tupperware

JP Radar Nganjuk - Di dunia bisnis, tak ada yang benar-benar aman, bahkan untuk raksasa yang pernah menguasai pasar.

Nama-nama besar yang dulu jadi simbol zaman, kini banyak yang hanya tinggal cerita, kalah oleh perubahan tren dan teknologi yang tak bisa dilawan.

Dari ponsel yang pernah jadi barang wajib hingga peralatan dapur yang selalu ada di setiap rumah, berikut adalah lima perusahaan mapan yang akhirnya harus menyerah.

Kisah mereka mengingatkan kita bahwa kesuksesan masa lalu bukan tiket emas untuk masa depan. Tanpa inovasi dan kepekaan terhadap kebutuhan pasar, bahkan yang terkuat pun bisa jatuh.

Yuk, kita intip lima raksasa yang pernah berjaya tapi kini terpaksa gulung tikar, termasuk satu yang pasti bikin emak-emak nostalgia!

1. Nokia: Legenda Ponsel yang Tenggelam
Sekitar tahun 2007, Nokia adalah raja pasar ponsel, dengan pangsa pasar mendekati 50%. Model seperti Nokia 1100 dan Lumia jadi idola karena ketangguhan dan desainnya.

Tapi, Nokia terlambat menyambut era smartphone. Sistem Symbian mereka tak bisa menyaingi kelincahan iOS dan Android.

Pada 2014, divisi ponselnya dijual ke Microsoft, dan Nokia beralih ke bisnis jaringan telekomunikasi, meninggalkan kenangan “snake game” di hati penggemar.

2. BlackBerry: Simbol Gengsi yang Merosot
Di puncaknya sekitar 2012, BlackBerry punya 85 juta pengguna dan jadi ponsel impian pebisnis serta anak muda berkat BBM dan keyboard fisiknya.

Tapi, ketika dunia beralih ke layar sentuh dan aplikasi modern, BlackBerry kehilangan pijakan.

Mereka gagal bersaing dengan iPhone dan Android, akhirnya menghentikan produksi ponsel pada 2016 untuk fokus pada layanan keamanan siber. Kini, BlackBerry hanya nama di masa lalu.

3. Tupperware: Kebanggaan Emak-emak yang Pamit
Sejak masuk Indonesia pada 1991, Tupperware jadi andalan emak-emak dengan wadah plastiknya yang kokoh dan segel kedap udara.

Pada 2013, Indonesia bahkan jadi pasar terbesar Tupperware dunia, dengan penjualan ratusan juta dolar dan komunitas distributor yang solid.

Sayangnya, tren produk murah dan masalah keuangan perusahaan induk di AS membuat Tupperware Indonesia tutup pada Januari 2025, meninggalkan nostalgia kotak makan warna-warni di setiap dapur.

4. Kodak: Raja Fotografi yang Tersisih
Selama lebih dari 100 tahun, Kodak mendominasi dunia fotografi dengan film dan kamera yang menangkap momen berharga.

Meski mereka yang pertama ciptakan kamera digital, Kodak malah terpaku pada bisnis film yang kian usang.

Ketika era digital meledak, mereka tak mampu bersaing dan akhirnya bangkrut pada 2012.

Sekarang, Kodak hanya hidup di segmen kecil seperti bahan industri, jauh dari masa keemasannya.

5. Blockbuster: Imperium Sewa Film yang Hancur
Pada 1990-an hingga awal 2000-an, Blockbuster adalah destinasi utama untuk menyewa film, dengan ribuan toko di seluruh dunia.

Tapi, munculnya Netflix dan layanan streaming mengubah cara orang menikmati hiburan.

Blockbuster terlambat beralih ke dunia digital dan bahkan menolak membeli Netflix di awal. Pada 2013, mereka resmi bangkrut, meninggalkan satu toko terakhir sebagai pengingat zaman kejayaan.

Kegagalan perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa mapan bukan jaminan abadi.

Dunia yang terus berputar menuntut mereka untuk tetap gesit, mendengar pasar, dan berani berubah.

Tanpa itu, nama sebesar apa pun bisa lenyap, seperti ponsel BlackBerry di dompet atau wadah Tupperware di rak dapur.

Di balik setiap kejatuhan, ada pelajaran untuk kita semua. Nokia kini bangkit di bidang jaringan, Kodak belajar dari kesalahan, dan kisah-kisah ini mengajarkan bahwa inovasi adalah kunci.

Mungkin suatu hari, dari reruntuhan ini, akan lahir raksasa baru yang siap mengguncang dunia atau malah nama lama yang kembali dengan wajah segar.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#merk #tupperware #Brand besar