Meski berada di dalam gang, warung soto khas Lamongan ini tidak pernah sepi pembeli. Pengunjungnya datang bukan hanya dari warga sekitar, tapi juga dari luar kota. Hal itu terlihat dari beragam plat nomor kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi.
“Saya mulai buka tahun 1995, waktu itu harga per porsi masih Rp 800,” cerita Adji, pemilik Soto Pak Dji.
Awalnya, Pak Dji berjualan dengan menyewa bangunan di Jalan PG Mrican, Desa Jongbiru. Namun, sejak kontraknya habis pada 2020, ia memutuskan pindah ke lokasi sekarang yang lebih terjangkau. “Harga kontrak di tempat lama naik, jadi cari yang murah,” ujarnya.
Soto Daging Tebal dan Melimpah
Kini, semangkuk Soto Pak Dji dijual seharga Rp 15 ribu. Dengan harga tersebut, pembeli akan mendapatkan potongan daging sapi tebal, jeroan, dan kuah gurih khas Lamongan. Bagi yang masih kurang kenyang, tersedia juga lauk tambahan seperti paru, babat, usus, limpa, telur asin, hingga perkedel.
“Harga perkedel Rp 1 ribu, kalau paru, babat, usus, limpa, dan telur asin Rp 5 ribu,” terang pria berusia 60 tahun itu.
Selain porsinya banyak, cita rasanya pun cukup memuaskan. Kuahnya tidak bening tapi juga tidak bersantan, dengan daging yang empuk dan gurih.
Warung Soto Pak Dji buka setiap hari mulai pukul 15.30 hingga 21.30 WIB. Namun saat ramai pembeli, warung bisa tutup lebih cepat karena dagangan sudah habis.
Editor : Miko