JP RADAR NGANJUK-Kalau berbicara soal oleh-oleh khas Semarang, nama wingko babat selalu masuk daftar utama. Teksturnya yang legit, aroma kelapa yang harum, serta rasa gurih-manis membuat siapa saja sulit berhenti mengunyah. Namun, fakta menariknya: wingko sebenarnya bukan berasal dari Semarang, melainkan dari sebuah kota kecil bernama Babat di Lamongan, Jawa Timur.
Lahir di Babat, Lamongan
Sejarah wingko dimulai pada akhir abad ke-19. Menurut catatan Universitas Airlangga (2021), wingko pertama kali diperkenalkan oleh pasangan keturunan Tionghoa, Loe Soe Siang dan Djoa Kiet Nio, sekitar tahun 1898 di Babat, Lamongan.
Mereka meracik kelapa muda parut dengan tepung ketan dan gula, lalu dipanggang menjadi kue sederhana yang kemudian berkembang menjadi kudapan populer.
Anak mereka, Loe Lan Ing, melanjutkan usaha tersebut dan mendirikan Pabrik Wingko Loe Lan Ing yang kemudian dikenal sebagai salah satu produsen wingko tertua di Indonesia (Unair, 2021). Bahkan, sebuah surat kabar Belanda bernama Soerabaijasch Handelsblad pada 6 Agustus 1934 menyebut wingko sebagai kuliner ikonik Babat yang menjadi buah tangan favorit penumpang kereta api (Lamongan Pos, 2021).
Nama “wingko” sendiri diduga berakar dari kata Tionghoa bibingka, istilah untuk kue berbahan beras ketan. Namun setelah diadaptasi dengan cita rasa lokal, masyarakat Babat menambahkan kelapa untuk memperkaya rasa sekaligus membuat kue lebih tahan lama saat dibawa bepergian (Lamongan Pos, 2021).
Migrasi ke Semarang
Perjalanan wingko ke Semarang tidak lepas dari kisah keluarga perintisnya. Pada tahun 1944, Loe Lan Hwa adik dari Loe Lan Ing bersama suaminya, The Ek Tjong (kemudian dikenal sebagai D. Mulyono) pindah ke Semarang akibat situasi politik yang memanas di Babat pada masa pasca-Perang Dunia II (YouStay Semarang, 2023).
Dua tahun kemudian, tepatnya 1946, mereka mulai memproduksi wingko di Semarang. Awalnya, wingko dijual dengan cara sederhana: berkeliling kampung dan menitipkan di kios-kios sekitar Stasiun Tawang (Magelang Ekspres, 2023).
Karena banyak pembeli bertanya asal-usul kue tersebut, mereka menamainya “Wingko Babat” untuk menegaskan bahwa kue ini berasal dari kampung halaman mereka di Babat, Lamongan (YouStay Semarang, 2023).
Branding pun mulai dikuatkan. Produk ini diberi label “Cap Spoor” (spoormaatschappij = kereta api dalam bahasa Belanda), terinspirasi dari pekerjaan sang suami yang berkaitan dengan restorasi kereta. Nama itu kemudian diganti menjadi “Cap Kereta Api”, yang hingga kini masih dikenal sebagai salah satu merek wingko paling legendaris di Semarang (Lamongan Pos, 2021).
Dari Babat ke Ikon Semarang
Berkat letak Semarang yang strategis sebagai kota pelabuhan dan jalur perdagangan, distribusi wingko semakin meluas. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Avatara UNESA (2022), sejak tahun 1950-an, wingko lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang ketimbang Babat, meskipun akarnya jelas berasal dari Lamongan.
Kini, wingko menjadi buah tangan wajib wisatawan, sejajar dengan lumpia dan bandeng presto. Variannya pun semakin beragam dari rasa original kelapa, hingga varian modern seperti cokelat, keju, dan durian.
Fun Fact: Resep klasik wingko sudah berusia lebih dari 120 tahun dan masih bertahan hingga kini dengan cara pembuatan tradisional menggunakan kelapa segar.
Penulis: Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa Magang UN PGRI Kediri
Editor : Jauhar Yohanis