JP Radar Nganjuk – Hubungan antara Elon Musk, salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di dunia, dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kini tengah memanas.
Keadaan semakin memanas setelah Musk secara terang-terangan mendesak agar Trump dimakzulkan karena dugaan bahwa nama Presiden amerika tersebut tercantum dalam dokumen skandal seks Jeffrey Epstein yang hingga saat ini belum dipublikasikan secara resmi.
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, X (sebelumnya Twitter), Musk menyindir Trump dengan menulis, “Saatnya jatuhkan bom besar: Donald Trump ada di dokumen Epstein. Itulah alasan kenapa dokumen itu belum dibuka. Selamat pagi, DJT!”.
Perseteruan ini memuncak setelah Musk mundur dari lembaga Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang sebelumnya berada di bawah naungan pemerintahan Trump.
Pengunduran diri ini disebut-sebut sebagai buntut kekecewaan Musk terhadap RUU “One Big Beautiful Bill” yang dianggapnya menghambat pertumbuhan sektor kendaraan listrik dan terlalu membebani perusahaan-perusahaan teknologi yang sedang berkembang.
Perseteruan antara keduanya pun makin menjadi-jadi setelah Musk turut menyetujui unggahan para pengguna media sosial yang meminta agar Trump segera dimakzulkan dan posisinya dan digantikan oleh Wakil Presiden JD Vance.
Hal ini menjadi pertanda jelas bahwa hubungan politik yang dahulu erat antara keduanya kini telah berubah menjadi permusuhan terbuka.
Sebagai tanggapan, Trump menuduh Musk memiliki agenda pribadi dan mengancam akan mencabut kontrak federal dengan perusahaan perusahaan Musk termasuk Tesla dan SpaceX.
Trump menyebut perubahan sikap Musk terlalu berlebihan akibat pencabutan subsidi untuk kendaraan listrik dari RUU yang tengah dibahas.
Konflik ini bukan hanya berdampak secara politik, tetapi juga turut mengguncang pasar saham. Saham Tesla dilaporkan anjlok hingga 16 persen, sementara saham Trump Media juga ikut turun sekitar 8 persen.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya stabilitas ekonomi dan hubungan bisnis akibat gesekan antara tokoh-tokoh besar di panggung global.
Meskipun belum ada bukti resmi yang membenarkan keterlibatan Trump dalam dokumen Epstein, pernyataan Musk telah memicu perdebatan sengit di kalangan politik dan masyarakat.
Penulis: Rozita Nur Azizah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira