JP Radar Nganjuk – Fenomena cuaca tak menentu kembali menyapa sebagian wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kemarau basah akan melanda sebagian wilayah Indonesia dan diperkirakan berlangsung hingga akhir Agustus 2025.
Meski secara kalender berada di musim kemarau, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih sering mengguyur.
Kondisi ini dikenal sebagai kemarau basah dan membawa sejumlah dampak yang perlu diwaspadai masyarakat.
1. Risiko Gagal Panen Meningkat
Dinas Pertanian Kabupaten Kediri mencatat adanya keluhan dari petani terkait terganggunya siklus tanam. “Tanah terlalu basah untuk dibajak, padahal ini seharusnya masa istirahat lahan,” ujar Kabid Produksi Pertanian, Sunarto. Selain itu, hujan di masa kemarau meningkatkan potensi serangan hama dan jamur pada tanaman seperti padi dan jagung.
2. Ancaman Longsor dan Banjir Lokal
Warga yang tinggal di lereng perbukitan dan pinggiran sungai sebaiknya tetap siaga. Hujan deras yang turun tiba-tiba saat tanah sudah kering bisa memicu pergeseran tanah.
Selain itu, saluran air yang tidak memadai rawan menyebabkan banjir lokal. Oleh karena itu warga dihimbau untuk ters waspada dan siaga.
3. Penyakit Musiman Mengintai
Dalam cuaca yang tidak menentu ini mengakibatkan adanya peningkatan kasus penyakit kulit, batuk pilek, hingga demam berdarah. Kondisi udara lembap dan banyak genangan air menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.
4. Infrastruktur Terancam
Selain berdampak pada sektor pertanian dan kesehatan, kemarau basah juga mempercepat kerusakan infrastruktur jalan. Aspal yang sudah retak akan mudah rusak jika terus-menerus terkena air hujan di saat kemarau.
5. Aktivitas Warga Terganggu
Karena cuaca yang tidak menentu mengakibatkan masyarakat selalu waspada dan berjaga-jaga.
Saat pagi hari cuaca akan terlihat cerah dengan sinar matahari yang bersinar sangat terik. Namun beberapa ajm kemudian tiba-tiba langit berubah gela dan hujan lebat pun turun.
Hal ini tentu saja menghambat aktivitas masyarakat. Mereka harus membawa jas hujan, payung, atau bahkan terjebak hujan karen atidak membawa jas hujan.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi bencana dan menjaga kebersihan lingkungan guna menghindari penyakit. Pemerintah daerah juga diharapkan melakukan langkah preventif untuk meminimalisasi dampak lebih lanjut.
Penulis: Rozita Nur Azizah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira