JP RADAR NGANJUK - Pernahkah kamu mendengar istilah filologi? Bagi sebagian orang, kata ini mungkin terdengar asing. Padahal, ilmunya punya peran besar dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Filologi berasal dari bahasa Yunani philos yang berarti cinta, dan logos yang berarti kata atau ilmu. Secara sederhana, filologi adalah ilmu yang mempelajari naskah-naskah lama, baik dari segi bahasa, isi, maupun konteks budaya yang melatarbelakanginya. Melalui filologi, kita bisa menyingkap cara berpikir masyarakat ratusan tahun lalu sekaligus menemukan jejak sejarah yang membentuk identitas kita sekarang.
Filologi punya hubungan erat dengan sastra. Banyak karya sastra klasik seperti hikayat, babad, serat, hingga suluk hanya bisa dipahami melalui kajian filologi. Bahasa Jawa Kuno atau Melayu Kuno yang dipakai dalam naskah-naskah tersebut jelas tidak mudah dimengerti pembaca modern.
Tugas filologi adalah menerjemahkan, menafsirkan, dan menghidupkan kembali teks-teks itu agar bisa dibaca serta dipelajari generasi masa kini. Dengan kata lain, tanpa filologi, sastra lama hanyalah teks usang yang tergeletak di rak, tetapi dengan filologi, sastra itu bernyawa dan tetap relevan.
Lebih dari sekadar mengkaji teks kuno, filologi membawa pesan penting, "jangan sampai kita tercerabut dari akar budaya sendiri" Ilmu ini berfungsi menjaga naskah agar tidak hilang, membuka jalan untuk memahami sejarah dan identitas bangsa, menyalurkan nilai moral yang diwariskan nenek moyang.
Sejumlah naskah kuno yang diteliti lewat filologi terbukti punya peran besar. Negarakertagama karya Mpu Prapanca misalnya, menjadi sumber utama untuk memahami kejayaan Majapahit. Hikayat Hang Tuah mengajarkan nilai kepahlawanan, kesetiaan, dan perjuangan yang masih relevan sampai sekarang.
Serat Centhini bahkan dianggap sebagai ensiklopedia budaya Jawa karena isinya mencakup filsafat, agama, hingga seni kehidupan. Sementara Babad Tanah Jawi menyimpan catatan penting tentang perjalanan sejarah Jawa dari kerajaan hingga masa kolonial.
Dari contoh ini terlihat bahwa isi naskah bukan sekadar cerita, tetapi juga pedoman hidup, ilmu pengetahuan, bahkan warisan nilai yang mampu menyeberangi zaman. Namun sayangnya, kondisi filologi di Indonesia saat ini bisa dibilang memprihatinkan. Banyak naskah berharga tersimpan di perpustakaan, museum, atau keraton tanpa perawatan memadai, bahkan ada yang rusak dimakan usia.
Di sisi lain, minat generasi muda untuk mendalami filologi masih rendah. Di tengah arus globalisasi, pengetahuan tentang filologi justru bisa memperkuat jati diri bangsa. Meski begitu, masih ada peneliti, dosen, dan mahasiswa yang konsisten menjaga keberlangsungan ilmu ini. Salah satunya dengan upaya digitalisasi naskah dan penelitian lintas disiplin.
Tantangan ke depan adalah bagaimana membuat filologi lebih dekat dengan masyarakat luas, tidak hanya terbatas di ruang akademik.
Lalu, mengapa kita perlu mempelajari filologi? Jawabannya sederhana, karena kita tidak bisa memahami masa kini tanpa mengenali masa lalu. Filologi membantu kita menghargai warisan leluhur, memperkuat identitas nasional, membuka wawasan lintas disiplin ilmu, dan menghidupkan kearifan lokal yang bisa jadi solusi bagi persoalan modern.
Nilai-nilai tentang kepemimpinan, solidaritas, hingga kebijaksanaan yang tertulis dalam naskah kuno sesungguhnya tetap relevan untuk kehidupan sekarang.Pada akhirnya, filologi bukanlah ilmu kuno yang basi. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Suatu pengingat bahwa bangsa besar lahir dari sejarah dan budaya yang kuat.
Di tengah gempuran globalisasi, sudah saatnya kita kembali melirik ilmu ini. Dengan merawat dan mempelajari filologi, kita bukan hanya menjaga naskah lama, tetapi juga merawat jati diri bangsa Indonesia.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis