JP Radar Kediri – Banyak orang mengeluhkan perut terasa nyeri atau tidak nyaman saat udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya.
Kondisi ini kerap terjadi menjelang pergantian musim, terutama saat pagi hari diselimuti udara sejuk dan embun masih menggantung di dedaunan.
Meski terkesan sepele, rasa sakit di perut saat udara dingin sebenarnya bukan hal yang asing dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Salah satu penyebab utamanya adalah respons tubuh terhadap suhu yang rendah.
Saat cuaca dingin, pembuluh darah akan menyempit, termasuk di area perut. Hal ini dapat memicu kontraksi otot perut yang menyebabkan rasa nyeri, mual, atau bahkan keinginan buang air besar secara mendadak.
Selain itu, suhu dingin juga bisa memengaruhi sistem pencernaan. Perubahan suhu tubuh secara tiba-tiba membuat kerja organ pencernaan jadi tidak seimbang, terutama jika seseorang mengonsumsi makanan berat sebelum tidur atau melewatkan sarapan di pagi hari.
Kombinasi perut kosong, suhu dingin, dan aktivitas fisik ringan bisa memicu ketidaknyamanan di bagian lambung.
Kondisi ini bisa makin terasa pada mereka yang memiliki riwayat penyakit lambung seperti maag atau gangguan pencernaan lainnya.
Udara dingin dapat memicu peningkatan asam lambung, yang kemudian menyebabkan rasa perih atau kembung di pagi hari.
Kebiasaan tertentu seperti langsung mandi dengan air dingin tanpa pemanasan tubuh lebih dulu juga bisa memperparah kondisi ini.
Begitu juga dengan bangun pagi dan langsung terkena angin atau udara luar tanpa menggunakan pakaian hangat.
Untuk mengurangi risiko perut sakit saat udara dingin, disarankan untuk tetap menjaga suhu tubuh tetap hangat di pagi hari.
Minum air hangat, mengenakan jaket atau selimut tipis saat tidur, dan tidak melewatkan sarapan bisa membantu tubuh menyesuaikan diri dengan suhu sekitar.
Meski umumnya tidak berbahaya, rasa sakit perut akibat udara dingin bisa cukup mengganggu aktivitas pagi hari.
Maka, mengenali penyebab dan cara pencegahannya bisa menjadi langkah bijak agar tubuh tetap sehat dan nyaman meski cuaca sedang tidak bersahabat.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira