MUSIMAN: Anak-anak menunggu peziarah di TPU Pace. Mereka jadi pembersih makam.
Mengintip Anak Pembersih Makam Jelang Ramadan
Nyekar menjadi tradisi menjelang Bulan Suci Ramadan. Momen berziarah itu menjadi momen spesial bagi anak-anak yang tinggal di sekitar tempat pemakaman umum (TPU). Mereka menjadi tukang pembersih makam dadakan. Hasilnya, anak-anak ini bisa meraup ratusan ribu rupiah.
KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Anak-anak di Desa Pacekulon, Kecamatan Pace memanfaatkan waktu libur sekolah dengan cara unik. Mereka tidak rekreasi ke luar kota. Namun, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) ini memilih menjadi pembersih makam dadakan.
Sejak pagi, anak-anak pergi ke tempat pemakaman umum (TPU). Mereka tidak sedang berziarah atau bermain di TPU. Melainkan untuk membantu membersihkan makam yang ingin nyekar. Dengan berbekal sapu, anak-anak menunggu orang yang mau berziarah.
Kemudian, mengantar ke makam anggota keluarganya. Lalu, dia membantu membersihkan makam. “Sejak taman kanak-kanak (TK) selalu bersih-bersih makam jika mau puasa,” ujar Arfa Bayu Pradana.
Anak yang berusia 10 tahun ini mengajak teman-temanya membersihkan makam menjelang puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya, sejak pagi hari, mereka akan berbondong-bondong ke TPU. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan dengan membawa sapu ijuk. Fungsinya adalah untuk membersihkan makam.
Belasan anak-anak itu akan menunggu peziarah yang datang. Ketika sudah menemukan target, mereka akan langsung menuju ke makam yang akan dikunjungi. Anak-anak itu lalu akan menawarkan jasa mereka. “Makam akan saya bersihkan. Nanti bayarnya seikhasnya saja,” tambah anak yang berasal dari Desa Pacekulon itu.
Upah yang diberikan oleh peziarah juga sangat bervariasi. Rata-rata, untuk satu kali bersih-bersih, mereka akan diberi upah Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu. Ketika sudah diberi, mereka akan putar balik dan menunggu peziarah lainnya.
Meski Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu, uang yang dikumpulkan selama satu hari bisa tergolong banyak. Seperti yang terjadi kemarin, dari siang hingga sore, Arfa bisa meraup untung hingga Rp 72 ribu. Kalau ditotal, sehari dia bisa meraup ratusan ribu. “Minim sehari itu dapat Rp 100 ribu,” ujarnnya.
Setelah dapat uang, mereka akan pulang. Kemudian, uang itu digunakan untuk beli jajan. Ada Sebagian yang dipakai membeli voucher games. “Kalau banyak ya ditabung untuk nanti beli takjil saat puasa,” ujar Arfa. (tyo)