NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kabupaten Nganjuk memiliki bangunan peninggalan penjajah Belanda. Salah satu yang masih terlihat adalah stum atau cerobong asap. "Saat ini masih tersisa lima stum. Dulu itu ada delapan stum," ungkap Aries Trio Effendy, Jupel Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk kemarin.
Menurut Aries, di era kolonial, banyak pabrik besar di Kabupaten Nganjuk. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya cerobong asap. “Sekarang cerobong asap hanya ada di Jatirejo, Sukomoro, Baron, Juwono, dan Lestari,” terangnya.
Aries menjelaskan, saat ini status cerobong asap tersebut tercatat sebagai bangunan diduga cagar budaya (BDCB). Sebab usia cerobong tersebut sudah lebih dari 50 tahun. Dan yang kedua ini memiliki peristiwa bersejarah. “Peristiwa bersejarah ini bisa peperangan, perjuangan, atau terkait perekonomian, hingga kebijakan,” imbuhnya.
Sedangkan bangunan cerobong asap milik pabrik tersebut memiliki latar perjuangan masyarakat di bidang perekonomian.
Salah satu cerobong asap yang saat ini masih ada berlokasi di Desa Jatirejo, Kecamatan Pace. Lokasi cerobong asap atau disebut stum ini berada di tengah pematang sawah. Cerobong asap tersebut adalah salah satu bangunan yang masih tersisa dari PG Djatie.
Sementara itu, Amin Fuadi, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Nganjuk mengatakan, PG Djatie itu dibangun pada tahun 1898. “Itu memang punyanya pabrik gula dan itu peninggalan Belanda yang kemudian wilayahnya penanganannya dengan PG Meritjan,” terang Amin.
Meski disebut sebagai BDCB, namun belum secara kajian. Sehingga, saat ini, masih akan meminta bantuan BPCB untuk mengkaji beberapa peninggalan era kolonial.
Amin menjelaskan, dulunya pabrik tersebut dulu dipakai merakit peralatan militer Belanda. Kemudian diserang oleh Jepang. Pabrik tersebut hanya meninggalkan cerobong asap dan satu rumah dinas.
Sebagai tempat bersejarah, cerobong asap tersebut masih ada yang mengunjunginya. Dimana lokasi tersebut sering digunakan untuk foto prewedding, dan konten tentang sejarah atau berbau mistis. “Ini sedang bikin konten tentang sejarah PG Djatie buat tugas PKL,” ujar Novarina, salah satu pelajar yang membuat konten.
Siswa yang duduk dibangku kelas XII SMK ini diminta untuk mencari tahu tentang sejarah PG Djatie. Mendapat tugas itu ia langsung datang ke lokasi untuk melihat langsung bangunan peninggalan Belanda tersebut. (ara/tyo)
Editor : Karen Wibi