JP Radar Nganjuk- Bayangkan sebuah desa kecil yang tiba-tiba dilanda... tawa. Bukan karena lelucon, bukan karena bahagia—melainkan karena penyakit. Itulah yang terjadi di Tanzania tahun 1962, saat dunia dikejutkan oleh fenomena aneh yang dikenal sebagai "wabah tertawa" (laughter epidemic).
Semuanya dimulai di sebuah sekolah putri di kota Kashasha. Tiga siswi tiba-tiba mulai tertawa tak terkendali. Tapi tawa itu bukan tawa biasa. Mereka tertawa selama berjam-jam—tanpa bisa berhenti. Dalam hitungan minggu, lebih dari 90 siswi terjangkit. Sekolah pun terpaksa ditutup.
Namun justru setelah penutupan itulah wabah menyebar. Tawa menular ke desa-desa tetangga. Lebih dari 1.000 orang terkena gejala yang sama: tertawa, menangis, berteriak, bahkan pingsan tanpa sebab jelas. Fenomena ini berlangsung berbulan-bulan, hingga pemerintah kewalahan.
Para ilmuwan menyebut peristiwa ini sebagai "mass psychogenic illness"—penyakit massal yang dipicu oleh stres kolektif. Saat itu, masyarakat setempat sedang berada dalam tekanan sosial dan budaya pascakemerdekaan dari Inggris, dan diduga trauma kolektif mereka berubah menjadi gejala fisik yang menular seperti virus.
Yang mencengangkan, tidak ada virus, bakteri, atau racun yang ditemukan. Wabah ini murni efek psikologis, tapi menyebar dengan kecepatan layaknya penyakit menular. Tawa menjadi simbol dari kegelisahan sosial yang terpendam.
Wabah ini bukan hanya kisah aneh dari masa lalu—tapi pengingat bahwa emosi manusia, terutama dalam tekanan sosial besar, bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat nyata dan sangat mengganggu.
Editor : Jauhar Yohanis